Sabtu, 15 November 2014

Menakar Peran Pemuda Saat Ini



Menakar Peran Pemuda Saat Ini
(Diterbitkan di harian Radar Banyuwangi edisi 14 November 2014)

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati sejarah lahirnya sumpah pemuda. Tepat 86 tahun lalu, perwakilan pemuda dari berbagai penjuru di Indonesia berkumpul menyuarakan cita-cita mereka, persatuan demi kemerdekaan.
Sumpah pemuda adalah tonggak awal perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda yang berasal dari berbagai suku, ras dan agama bersatu padu menyatakan “ke-bhineka tunggal lka-an” mereka. Dengan deklarasi satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia, mereka telah menunjukkan pada seluruh rakyat saat itu bahwa mereka ada untuk bangsa.
Peran Pemuda
Definisi pemuda setidaknya memiliki tiga kategori, yaitu menyangkut batasan usia pemuda, sifat atau karakteristik pemuda, dan tujuan dari aktivitas kepemudaan (Ekki Nuari Hakim, 2011). Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people.
Jika menilik data Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2010-2035 yang dihasilkan BPS, jumlah penduduk usia 10-24 pada tahun 2014 mencapai 65, 74 juta jiwa. Artinya 26,01% penduduk Indonesia adalah yang mereka yang disebut pemuda.
Pemuda identik dengan kreativ, inovatif  dan pendorong perubahan. Oleh karena itu, peran penting pemuda bagi bangsa adalah mengubah pola hidup dan tingkah laku masyarakat yang cenderung individualis, apatis, permisif pada ketidakjujuran dan perilaku korupsi serta gaya hidup hedonis dan konsumtif. Sehingga akan terbentuk suatu masyarakat yang berpradaban, tertib dan maju.
Telah banyak contoh peranan pemuda bagi bangsa Indonesia. Deklarasi Sumpah Pemuda dan kemerdekaan Indonesia adalah contoh konkritnya. Bahkan bapak proklamator Indonesia, Soekarno, menggambarkan besarnya peran pemuda lewat kutipannya, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.
Kondisi Pemuda Saat Ini
Setelah melewati perjuangan yang panjang, bangsa Indonesia akhirnya memperoleh kemerdekaanya pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun selama 69 tahun merdeka, bangsa Indonesia tidaklah sepenuhnya lepas dari bayang-bayang penjajahan. Bukan ancaman fisik dari bangsa lain atau aksi terorisme yang ditakutkan. Lebih dari itu, Indonesia, khususnya para pemudanya sedang mengalami penjajahan moral.
Ya, moral para pemuda saat ini tengah terdegradasi sangat akut. Sering kita lihat di media, betapa banyak pemuda kita terjerumus dalam pengaruh narkoba, miras, pergaulan bebas dan kecintaan berlebih pada budaya bangsa lain sehingga lupa pada budaya sendiri. Bahkan pernah dalam sebuah tayangan televisi swasta, saat beberapa anak muda ditanya tentang tanggal kemerdekaan Indonesia, isi Pancasila, isi sumpah pemuda dan pertanyaan yang berkaitan dengan nasionalisme Indonesia, mereka tidak tahu. Ini seakan menjadi ironi, pemuda yang seharusnya menjadi the next leader justru  lupa dengan identitas bangsa dan terombang-ambing pada dunia hedonis yang melenakan.
Bagi seorang pemuda, pengakuan atas eksistensi dan harga dirinya oleh masyarakat adalah penghargaan yang tak terbatas nilainya. Oleh karena itu, dalam rangka pencarian jati diri, seringkali pemuda tergelincir dalam godaan-godaan yang menjerumuskannya dalam lobang keterpurukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang ingin dicap jagoan dan pemberani rela mempertaruhkan nyawanya demi ikut-ikutan tawuran tanpa tahu maksud dan tujuannya.  Para artis yang ingin tampil percaya diri nekat mengkonsumsi narkoba dan atlet yang ingin menang pada lomba atletik dengan secara mengkonsumsi doping.  
Memang tidak semua pemuda seperti kondisi di atas, masih banyak pula pemuda yang menorehkan prestasi sampai kancah internasional. Dalam kejuaraan olimpiade matematika dan fisika tingkat dunia contohnya, Indonesia selalu menjadi langganan juara.
Pemuda, Mari Bangkit
Eksistensi para tokoh pencetus sumpah pemuda seharusnya menjadi penyemangat pemuda saat ini. Bahwa perjuangan harus dilanjutkan. Momentum sumpah pemuda seharusnya menjadi refleksi kita semua untuk kembali menata tujuan hidup. Bagi para pelajar, selain belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh, mengisi aktivitas sehari-hari dengan kegiatan positis harus terus ditingkatkan. Pun juga dengan para pemuda pada umumnya, kembangkanlah potensi diri masing-masing dengan kreatif dan inovatif. Sehingga kita bisa berkarya dan menorehkan prestasi yang membanggakan. Dengan sendirinya pengakuan dari masyarakat akan mengalir. Bangsa ini akan dipenuhi oleh pemuda-pemuda kreatif. Maka bukanlah tidak mungkin jika 5, 10 atau beberapa tahun lagi Indonesia akan menjadi bangsa yang besar, maju dan mapan. Semoga...


Faishol Amir, S.Si
KSK Suboh BPS Kab.Situbondo.