Menakar Peran Pemuda Saat Ini
(Diterbitkan di harian Radar Banyuwangi edisi 14 November 2014)
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa
Indonesia memperingati sejarah lahirnya sumpah pemuda. Tepat 86 tahun lalu,
perwakilan pemuda dari berbagai penjuru di Indonesia berkumpul menyuarakan
cita-cita mereka, persatuan demi kemerdekaan.
Sumpah pemuda adalah tonggak awal
perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda yang berasal dari
berbagai suku, ras dan agama bersatu padu menyatakan “ke-bhineka tunggal
lka-an” mereka. Dengan deklarasi satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa
yaitu Indonesia, mereka telah menunjukkan pada seluruh rakyat saat itu bahwa
mereka ada untuk bangsa.
Peran Pemuda
Definisi pemuda setidaknya
memiliki tiga kategori, yaitu menyangkut batasan usia pemuda, sifat atau
karakteristik pemuda, dan tujuan dari aktivitas kepemudaan (Ekki Nuari Hakim,
2011). Sedangkan dalam kerangka usia,
WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people.
Jika menilik data Proyeksi
Penduduk Indonesia Tahun 2010-2035 yang dihasilkan BPS, jumlah penduduk usia
10-24 pada tahun 2014 mencapai 65, 74 juta jiwa. Artinya 26,01% penduduk
Indonesia adalah yang mereka yang disebut pemuda.
Pemuda identik dengan kreativ,
inovatif dan pendorong perubahan. Oleh
karena itu, peran penting pemuda bagi bangsa adalah mengubah pola hidup dan
tingkah laku masyarakat yang cenderung individualis, apatis, permisif pada
ketidakjujuran dan perilaku korupsi serta gaya hidup hedonis dan konsumtif. Sehingga
akan terbentuk suatu masyarakat yang berpradaban, tertib dan maju.
Telah banyak contoh peranan
pemuda bagi bangsa Indonesia. Deklarasi Sumpah Pemuda dan kemerdekaan Indonesia
adalah contoh konkritnya. Bahkan bapak proklamator Indonesia, Soekarno, menggambarkan
besarnya peran pemuda lewat kutipannya, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan
dunia”.
Kondisi Pemuda Saat
Ini
Setelah melewati perjuangan yang
panjang, bangsa Indonesia akhirnya memperoleh kemerdekaanya pada tanggal 17
Agustus 1945. Namun selama 69 tahun merdeka, bangsa Indonesia tidaklah
sepenuhnya lepas dari bayang-bayang penjajahan. Bukan ancaman fisik dari bangsa
lain atau aksi terorisme yang ditakutkan. Lebih dari itu, Indonesia, khususnya
para pemudanya sedang mengalami penjajahan moral.
Ya, moral para pemuda saat ini
tengah terdegradasi sangat akut. Sering kita lihat di media, betapa banyak
pemuda kita terjerumus dalam pengaruh narkoba, miras, pergaulan bebas dan
kecintaan berlebih pada budaya bangsa lain sehingga lupa pada budaya sendiri.
Bahkan pernah dalam sebuah tayangan televisi swasta, saat beberapa anak muda
ditanya tentang tanggal kemerdekaan Indonesia, isi Pancasila, isi sumpah pemuda
dan pertanyaan yang berkaitan dengan nasionalisme Indonesia, mereka tidak tahu.
Ini seakan menjadi ironi, pemuda yang seharusnya menjadi the next leader justru lupa
dengan identitas bangsa dan terombang-ambing pada dunia hedonis yang melenakan.
Bagi seorang pemuda, pengakuan
atas eksistensi dan harga dirinya oleh masyarakat adalah penghargaan yang tak
terbatas nilainya. Oleh karena itu, dalam rangka pencarian jati diri,
seringkali pemuda tergelincir dalam godaan-godaan yang menjerumuskannya dalam
lobang keterpurukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang ingin dicap jagoan dan
pemberani rela mempertaruhkan nyawanya demi ikut-ikutan tawuran tanpa tahu
maksud dan tujuannya. Para artis yang
ingin tampil percaya diri nekat mengkonsumsi narkoba dan atlet yang ingin
menang pada lomba atletik dengan secara mengkonsumsi doping.
Memang tidak semua pemuda seperti
kondisi di atas, masih banyak pula pemuda yang menorehkan prestasi sampai
kancah internasional. Dalam kejuaraan olimpiade matematika dan fisika tingkat
dunia contohnya, Indonesia selalu menjadi langganan juara.
Pemuda, Mari
Bangkit
Eksistensi para tokoh pencetus
sumpah pemuda seharusnya menjadi penyemangat pemuda saat ini. Bahwa perjuangan
harus dilanjutkan. Momentum sumpah pemuda seharusnya menjadi refleksi kita
semua untuk kembali menata tujuan hidup. Bagi para pelajar, selain belajar
dengan rajin dan sungguh-sungguh, mengisi aktivitas sehari-hari dengan kegiatan
positis harus terus ditingkatkan. Pun juga dengan para pemuda pada umumnya,
kembangkanlah potensi diri masing-masing dengan kreatif dan inovatif. Sehingga
kita bisa berkarya dan menorehkan prestasi yang membanggakan. Dengan sendirinya
pengakuan dari masyarakat akan mengalir. Bangsa ini akan dipenuhi oleh
pemuda-pemuda kreatif. Maka bukanlah tidak mungkin jika 5, 10 atau beberapa
tahun lagi Indonesia akan menjadi bangsa yang besar, maju dan mapan. Semoga...
Faishol Amir, S.Si
KSK Suboh BPS Kab.Situbondo.