Mari
Bercermin Dengan Data
(Tulisan dibuat bulan september 2016-----Namun dimuat di Harian Radar Banyuwangi-Jawapos, Sabtu 21 Januari 2017)
(Tulisan dibuat bulan september 2016-----Namun dimuat di Harian Radar Banyuwangi-Jawapos, Sabtu 21 Januari 2017)
Seringkali kita jumpai di berbagai acara, baik formal maupun
informal, kepala daerah menyampaikan kemajuan dan keberhasilan kinerja
pemerintahannya melalui informasi angka pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari
tahun ke tahun. Terkadang informasi itu dilengkapi dengan jumlah penduduk
miskin yang menurun, yang menurut beliau-beliau, telah berhasil mengentaskan
kemiskinan dan mensejahterakan masyarakat.
Apa yang disampaikan di atas tidaklah salah. Namun juga tidak
sepenuhnya benar. Dalam menilai keberhasilan pengentasan kemiskinan dan
memajukan kesejahteraan masyarakat, komponen pertumbuhan ekonomi dan jumlah
penduduk miskin tidaklah cukup. Ada indikator lain yang harus menjadi perhatian
serius dalam memahami keberhasilan pembangunan, diantaranya yaitu Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) dan jumlah pengangguran.
# PDRB dan
Pertumbuhan Ekonomi
Sajian angka pertumbuhan ekonomi menjadi topik yang sangat menarik
untuk disimak karena pertumbuhan ekonomi menggambarkan kinerja pembangunan di
bidang perekonomian. Dengan asumsi sederhana, angka pertumbuhan ekonomi
meningkat maka perekonomian suatu wilayah semakin berkembang dan sebaliknya.
Namun sebelum mengamini asumsi tersebut, mari kita simak dengan seksama sekilas
tentang angka pertumbuhan ekonomi.
Angka pertumbuhan ekonomi diperoleh dari olah data Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) suatu wilayah berdasarkan harga konstan (dalam hal ini
menggunakan tahun dasar 2010). PDRB itu sendiri merupakan nilai tambah bruto
seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu
daerah yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode
tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang dimiliki residen atau
non-residen (BPS Jawa Timur, 2015).
Perhitungan PDRB dilakukan dengan dua pendekatan konsep harga, yaitu
harga konstan dengan tahun dasar tertentu dan harga berlaku. Untuk menghitung
pertumbuhan ekonomi, digunkanan PDRB atas dasar harga konstan. Sedangkan untuk
melihat kinerja ekonomi secara sektoral (unit ekonomi), digunakan PDRB atas
dasar harga berlaku.
Peningkatan angka pertumbuhan ekonomi harus dipahami sebagai
peningkatan nilai total PDRB secara keseluruhan. Namun bukan berarti seluruh
unit ekonomi yang ada disana meningkat pesat. Bisa jadi sumbangan terbesar PDRB
hanya berasal dari sebagian kecil sektor ekonomi berskala besar dan milik
konglomerat ataupun asing. Jika ini yang terjadi, maka tidak merefleksikan
kemajuan semua unit usaha di wilayah tersebut.
Jousari Hasbullah (Deputi Sosial BPS RI) dalam bukunya yang berjudul
Tangguh Dengan Statistik mengemukakan
Jika akumulasi nilai tambah yang terjadi hanya berasal dari usaha besar,
tentunya akan berbeda dampak ekonominya dalam merangsang dinamika perekonomian
rakyat dibanding pertumbuhan tersebut berasal dari kegiatan usaha yang lebih
variatif dan dari semua tingkatan skala usaha.
Jousari juga menambahkan bahwa Pertumbuhan ekonomi dikatakan
berkualitas jika pertumbuhan itu diperoleh dari tumbuhnya semua kegiatan
ekonomi dan terutama yang banyak digeluti oleh masyarakat secara luas. Bukan
hanya terjadi pada aktivitas padat modal atau dari sektor-sektor yang tidak
berdampak luas pada penyerapan tenaga kerja.
Jadi jangan tergesa-gesa menilai kinerja pemerintah buruk karena
pertumbuhan ekonomi melambat. Akan sangat mungkin jika pertumbuhan ekonomi
melambat (lebih rendah) dari tahun sebelumnya namun jika pertumbuhannya merata di hampir semua
unit usaha, justru itu mencerminkan iklim ekonomi yang dinamis.
# Pertumbuhan
Ekonomi dan Jumlah Pengangguran
Untuk memahami keterkaitan pertumbuhan ekonomi dengan jumlah
pengangguran, kita harus memahami terlebih dahulu tentang konsep
ketenagakerjaan, yaitu: bekerja adalah melakukan aktivitas ekonomi dalam
seminggu yang lalu dan dilakukan minimal selama 1 jam. Penduduk angkatan kerja
adalah penduduk usia 15 tahun keatas yang bekerja atau punya pekerjaan namun
sedang tidak bekerja dan pengangguran. Sedang pengangguran adalah mereka yang
tidak bekerja dan tidak aktif mencari pekerjaan atau mempersiapkan usaha.
Ibu rumah tangga yang hanya fokus mengurus rumah tangga, pelajar dan
mahasiswa yang hanya fokus sekolah tidak digolongkan sebagai angkatan kerja dan
tidak dilibatkan dalam perhitungan pengangguran. Dan yang terakhir adalah
pengangguran terbuka, yaitu mereka yang tidak sedang bekerja namun masih
mencari pekerjaan/ mempersiapkan usaha dan mereka yang sudah punya pekerjaan
namun belum mulai bekerja (seperti baru diterima kerja). Konsep ini adalah
hasil rekomendasi PBB yang diadopsi BPS
untuk menjaga keterbandingan data dengan negara lain.Yang sering dijadikan
acuan untuk mengamati pengangguran adalah tingkat pengangguran terbuka (TPT),
yaitu persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja.
Logika sederhana pembaca data mengatakan jika ekonomi tumbuh
membaik, seharusnya tingkat pengangguran turun, yang berarti terjadi perluasan
lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja. Cukup masuk akal. Namun jangan
kaget saat kita melihat data pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran
terbuka provinsi jawa Timur di bawah ini,
Pada tahun 2014, ekonomi Jawa Timur melambat dari tahun sebelumnya,
namun angka pengangguran justru menurun. Hal ini menarik untuk dikaji lebih
jauh. Mengapa angka pengangguran bukannya naik?.
Naik turunnya angka pengangguran tidak secara otomatis dipengaruhi
oleh cepat lambatnya pertumbuhan ekonomi. Pada wilayah dengan iklim ekonomi
yang bagus dan tingkat pendidikan yang baik, saat terjadi kenaikan pertumbuhan
ekonomi yang diindikasikan dengan geliat ekonomi yang membaik dan perluasan
lapangan kerja, bisa jadi angka pengangguran meningkat. Hal itu karena saat ada
kesempatan kerja yang luas namun tidak sesuai kualifikasi pendidikan atau juga
tidak diminati oleh penduduk berpendidikan tinggi. Alhasil angka pengangguran
pun tetap tinggi.
Lain halnya dengan wilayah yang menjadi basis kantong kemiskinan
dengan tingkat pendidikan rendah. Mereka pada umumnya akan berusaha bekerja/
mencari pekerjaan apapun walau serabutan. Istilahnya asal dapur mengepul. Jadi
tumbuh lambatnya ekonomi tidak berpengaruh bagi mereka. Sehingga jika diamati
dengan seksama, pada wilayah-wilayah ini angka pengangguran cenderung rendah
walaupun pertumbuhan ekonomi naik ataupun melambat.
# Pertumbuhan
Ekonomi dan IPM
Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) bermanfaat untuk mengukur capaian pembangunan manusia
berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup,
IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup
umur panjang dan sehat; pengetahuan, dan kehidupan yang layak. Ketiga dimensi
tersebut memiliki pengertian sangat luas karena terkait banyak faktor.
Untuk
mengukur dimensi kesehatan, digunakan angka harapan hidup waktu lahir.
Selanjutnya untuk mengukur dimensi pengetahuan digunakan gabungan indikator
angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Adapun untuk mengukur
dimensi hidup layak digunakan indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap
sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per
kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk
hidup layak.
Seperti
yang telah saya jelaskan di atas, pertumbuhan ekonomi bukanlah indikator
tunggal untuk menunjukkan baik-buruknya kinerja pemerintahan suatu wilayah.
Saat ada wilayah yang pertumbuhannya melambat selama beberapa tahun, bisa jadi
karena proses pemerataan pembangunan di semua sektor ekonomi.
Jika
mengamati data pertumbuhan ekonomi Jawa Timur seperti yang saya sajikan di
atas, dalam kurun waktu 5 tahun belakang ini, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur
melambat. Namun IPM Jawa Timur meningkat dari 65,36
pada tahun 2010 menjadi 68,95 pada tahun 2015 (BPS Jawa Timur). Selama periode
tersebut, IPM Jawa Timur rata-rata tumbuh sebesar 1,07 persen per tahun. Artinya
kualitas pembangunan manusia terus membaik dari tahun ke tahun.
Jadi tidak ada korelasi yang tetap antara IPM dan pertumbuhan
ekonomi. Artinya saat pertumbuhan ekonomi membaik, tidak pula harus diikuti
dengan IPM yang naik, dan juga sebaliknya.
# Pertumbuhan
Ekonomi dan Kemiskinan
kemiskinan
dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan
dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi
Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita
perbulan dibawah garis kemiskinan.
Sedangkan Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis
Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).
Garis
Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan
yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Garis Kemiskinan Non
Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan
dan kesehatan.
Sebenarnya
masih banyak istilah yang berkaitan dengan kemiskinan yang tidak mungkin bisa
saya jabarkan secara lengkap pada tulisan saya ini. Namun untuk sekedar
diketahui batasan kemiskinan adalah yang disebutkan di atas.
Jika merujuk pada data BPS Jawa Timur tentang angka kemiskinan,
diketahui persentase penduduk miskin turun secara bertahap dalam rentang waktu
pengamatan tahun 2010-2015. Meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, fakta yang
terjadi penduduk miskin berkurang jumlahnya. Inipun semakin menegaskan bahwa
pertumbuhan maupun perlambatan ekonomi tidak secara langsung dan pasti akan
berpenagruh pada jumlah penduduk miskin. Artinya butuh kearifan pembaca untuk
tidak secara cepat men-justice baik
buruknya kinerja pemerintahan dari angka pertumbuhan ekonomi semata.
Sebenarnya masih banyak indikator-indikator yang dijadikan acuan untuk
mengasumsikan tantang kemiskinan maupun kesejahteraan masyarakat. Kearifan,
kehati-hatian dan kebijaksanaan pembaca data dibutuhkan agar tidak tersesat
oleh informasi-informasi singkat yang melencengkan dan mengaburkan fakta
dilapangan. Mari kita gunakan data sebagai cermin dengan benar agar tampak
wajah nyata dan realita masyarakat dengan tepat.
Akhir kata, semoga kita cerdas dengan data…
Faishol Amir, S.Si
Koordinator Statistik
Kecamatan
BPS Kab. Situbondo
