Sabtu, 21 Januari 2017

Mari Bercermin Dengan Data
(Tulisan dibuat bulan september 2016-----Namun dimuat di Harian Radar Banyuwangi-Jawapos, Sabtu 21 Januari 2017)

Seringkali kita jumpai di berbagai acara, baik formal maupun informal, kepala daerah menyampaikan kemajuan dan keberhasilan kinerja pemerintahannya melalui informasi angka pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari tahun ke tahun. Terkadang informasi itu dilengkapi dengan jumlah penduduk miskin yang menurun, yang menurut beliau-beliau, telah berhasil mengentaskan kemiskinan dan mensejahterakan masyarakat.
Apa yang disampaikan di atas tidaklah salah. Namun juga tidak sepenuhnya benar. Dalam menilai keberhasilan pengentasan kemiskinan dan memajukan kesejahteraan masyarakat, komponen pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk miskin tidaklah cukup. Ada indikator lain yang harus menjadi perhatian serius dalam memahami keberhasilan pembangunan, diantaranya yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan jumlah pengangguran.
# PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi
Sajian angka pertumbuhan ekonomi menjadi topik yang sangat menarik untuk disimak karena pertumbuhan ekonomi menggambarkan kinerja pembangunan di bidang perekonomian. Dengan asumsi sederhana, angka pertumbuhan ekonomi meningkat maka perekonomian suatu wilayah semakin berkembang dan sebaliknya. Namun sebelum mengamini asumsi tersebut, mari kita simak dengan seksama sekilas tentang angka pertumbuhan ekonomi.
Angka pertumbuhan ekonomi diperoleh dari olah data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu wilayah berdasarkan harga konstan (dalam hal ini menggunakan tahun dasar 2010). PDRB itu sendiri merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu daerah yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang dimiliki residen atau non-residen (BPS Jawa Timur, 2015).
Perhitungan PDRB dilakukan dengan dua pendekatan konsep harga, yaitu harga konstan dengan tahun dasar tertentu dan harga berlaku. Untuk menghitung pertumbuhan ekonomi, digunkanan PDRB atas dasar harga konstan. Sedangkan untuk melihat kinerja ekonomi secara sektoral (unit ekonomi), digunakan PDRB atas dasar harga berlaku.
Peningkatan angka pertumbuhan ekonomi harus dipahami sebagai peningkatan nilai total PDRB secara keseluruhan. Namun bukan berarti seluruh unit ekonomi yang ada disana meningkat pesat. Bisa jadi sumbangan terbesar PDRB hanya berasal dari sebagian kecil sektor ekonomi berskala besar dan milik konglomerat ataupun asing. Jika ini yang terjadi, maka tidak merefleksikan kemajuan semua unit usaha di wilayah tersebut.
Jousari Hasbullah (Deputi Sosial BPS RI) dalam bukunya yang berjudul Tangguh Dengan Statistik mengemukakan Jika akumulasi nilai tambah yang terjadi hanya berasal dari usaha besar, tentunya akan berbeda dampak ekonominya dalam merangsang dinamika perekonomian rakyat dibanding pertumbuhan tersebut berasal dari kegiatan usaha yang lebih variatif dan dari semua tingkatan skala usaha.
Jousari juga menambahkan bahwa Pertumbuhan ekonomi dikatakan berkualitas jika pertumbuhan itu diperoleh dari tumbuhnya semua kegiatan ekonomi dan terutama yang banyak digeluti oleh masyarakat secara luas. Bukan hanya terjadi pada aktivitas padat modal atau dari sektor-sektor yang tidak berdampak luas pada penyerapan tenaga kerja.
Jadi jangan tergesa-gesa menilai kinerja pemerintah buruk karena pertumbuhan ekonomi melambat. Akan sangat mungkin jika pertumbuhan ekonomi melambat (lebih rendah) dari tahun sebelumnya namun  jika pertumbuhannya merata di hampir semua unit usaha, justru itu mencerminkan iklim ekonomi yang dinamis.
# Pertumbuhan Ekonomi dan Jumlah Pengangguran
Untuk memahami keterkaitan pertumbuhan ekonomi dengan jumlah pengangguran, kita harus memahami terlebih dahulu tentang konsep ketenagakerjaan, yaitu: bekerja adalah melakukan aktivitas ekonomi dalam seminggu yang lalu dan dilakukan minimal selama 1 jam. Penduduk angkatan kerja adalah penduduk usia 15 tahun keatas yang bekerja atau punya pekerjaan namun sedang tidak bekerja dan pengangguran. Sedang pengangguran adalah mereka yang tidak bekerja dan tidak aktif mencari pekerjaan atau mempersiapkan usaha.
Ibu rumah tangga yang hanya fokus mengurus rumah tangga, pelajar dan mahasiswa yang hanya fokus sekolah tidak digolongkan sebagai angkatan kerja dan tidak dilibatkan dalam perhitungan pengangguran. Dan yang terakhir adalah pengangguran terbuka, yaitu mereka yang tidak sedang bekerja namun masih mencari pekerjaan/ mempersiapkan usaha dan mereka yang sudah punya pekerjaan namun belum mulai bekerja (seperti baru diterima kerja). Konsep ini adalah hasil rekomendasi PBB  yang diadopsi BPS untuk menjaga keterbandingan data dengan negara lain.Yang sering dijadikan acuan untuk mengamati pengangguran adalah tingkat pengangguran terbuka (TPT), yaitu persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja.
Logika sederhana pembaca data mengatakan jika ekonomi tumbuh membaik, seharusnya tingkat pengangguran turun, yang berarti terjadi perluasan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja. Cukup masuk akal. Namun jangan kaget saat kita melihat data pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran terbuka provinsi jawa Timur di bawah ini,

Pada tahun 2014, ekonomi Jawa Timur melambat dari tahun sebelumnya, namun angka pengangguran justru menurun. Hal ini menarik untuk dikaji lebih jauh. Mengapa angka pengangguran bukannya naik?.
Naik turunnya angka pengangguran tidak secara otomatis dipengaruhi oleh cepat lambatnya pertumbuhan ekonomi. Pada wilayah dengan iklim ekonomi yang bagus dan tingkat pendidikan yang baik, saat terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi yang diindikasikan dengan geliat ekonomi yang membaik dan perluasan lapangan kerja, bisa jadi angka pengangguran meningkat. Hal itu karena saat ada kesempatan kerja yang luas namun tidak sesuai kualifikasi pendidikan atau juga tidak diminati oleh penduduk berpendidikan tinggi. Alhasil angka pengangguran pun tetap tinggi.
Lain halnya dengan wilayah yang menjadi basis kantong kemiskinan dengan tingkat pendidikan rendah. Mereka pada umumnya akan berusaha bekerja/ mencari pekerjaan apapun walau serabutan. Istilahnya asal dapur mengepul. Jadi tumbuh lambatnya ekonomi tidak berpengaruh bagi mereka. Sehingga jika diamati dengan seksama, pada wilayah-wilayah ini angka pengangguran cenderung rendah walaupun pertumbuhan ekonomi naik ataupun melambat.
# Pertumbuhan Ekonomi dan IPM
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bermanfaat untuk mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat; pengetahuan, dan kehidupan yang layak. Ketiga dimensi tersebut memiliki pengertian sangat luas karena terkait banyak faktor.
Untuk mengukur dimensi kesehatan, digunakan angka harapan hidup waktu lahir. Selanjutnya untuk mengukur dimensi pengetahuan digunakan gabungan indikator angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak.
Seperti yang telah saya jelaskan di atas, pertumbuhan ekonomi bukanlah indikator tunggal untuk menunjukkan baik-buruknya kinerja pemerintahan suatu wilayah. Saat ada wilayah yang pertumbuhannya melambat selama beberapa tahun, bisa jadi karena proses pemerataan pembangunan di semua sektor ekonomi.
Jika mengamati data pertumbuhan ekonomi Jawa Timur seperti yang saya sajikan di atas, dalam kurun waktu 5 tahun belakang ini, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur melambat. Namun IPM Jawa Timur meningkat dari 65,36 pada tahun 2010 menjadi 68,95 pada tahun 2015 (BPS Jawa Timur). Selama periode tersebut, IPM Jawa Timur rata-rata tumbuh sebesar 1,07 persen per tahun. Artinya kualitas pembangunan manusia terus membaik dari tahun ke tahun.
Jadi tidak ada korelasi yang tetap antara IPM dan pertumbuhan ekonomi. Artinya saat pertumbuhan ekonomi membaik, tidak pula harus diikuti dengan IPM yang naik, dan juga sebaliknya.
# Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan
kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.  Sedangkan Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).
Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan.
Sebenarnya masih banyak istilah yang berkaitan dengan kemiskinan yang tidak mungkin bisa saya jabarkan secara lengkap pada tulisan saya ini. Namun untuk sekedar diketahui batasan kemiskinan adalah yang disebutkan di atas.
Jika merujuk pada data BPS Jawa Timur tentang angka kemiskinan, diketahui persentase penduduk miskin turun secara bertahap dalam rentang waktu pengamatan tahun 2010-2015. Meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, fakta yang terjadi penduduk miskin berkurang jumlahnya. Inipun semakin menegaskan bahwa pertumbuhan maupun perlambatan ekonomi tidak secara langsung dan pasti akan berpenagruh pada jumlah penduduk miskin. Artinya butuh kearifan pembaca untuk tidak secara cepat men-justice baik buruknya kinerja pemerintahan dari angka pertumbuhan ekonomi semata.
Sebenarnya masih banyak indikator-indikator yang dijadikan acuan untuk mengasumsikan tantang kemiskinan maupun kesejahteraan masyarakat. Kearifan, kehati-hatian dan kebijaksanaan pembaca data dibutuhkan agar tidak tersesat oleh informasi-informasi singkat yang melencengkan dan mengaburkan fakta dilapangan. Mari kita gunakan data sebagai cermin dengan benar agar tampak wajah nyata dan realita masyarakat dengan tepat.
Akhir kata, semoga kita cerdas dengan data…
Faishol Amir, S.Si
Koordinator Statistik Kecamatan
BPS Kab. Situbondo

Kamis, 05 November 2015

Dan Kamipun Menemukan Semangat Baru (Cerita Kegiatan KSKP 2015)

Dan Kamipun Menemukan Semangat Baru
(Cerita Kegiatan KSKP 2015)
Assalamualaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa merampungkan kisah dan cerita kegiatan KSKP tahun 2015 ditengah padatanya kegiatan yang cukup menyita waktu dan tenaga. Sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Faishol Amir, S.Si, Koordinator Statistik Kecamatan (KSK) Suboh Kabupaten Situbondo Provinsi Jawa Timur.
Pada kesempatan kali ini, saya akan mengulas secara lengkap agenda kegiatan pelaksanaan KSK berprestasi (KSKP) tahun 2015. Tulisan ini saya bagi dalam beberapa bagian, mulai Penjelasan tentang apa itu KSKP, tahap persiapan, pelaksanaan dari hari pertama sampai terakhir hingga kisah perpisahan dan perjalanan pulang kami.
# Tentang KSKP
Setiap tahun, di BPS ada ajang pemilihan KSK berprestasi (KSKP) yang dimulai dari level kabupaten/ kota yang akan terpilih satu KSK untuk dilombakan kembali di level provinsi. Dari masing-masing provinsi dipilih lagi satu KSKP yang menduduki juara satu untuk dikirim ke Jakarta mengikuti kegiatan KSKP nasional.
Kegiatan KSKP adalah sebuah penghargaan besar dari BPS kepada garda terdepan BPS dalam menghasilkan data, yaitu KSK. Sehingga diharapkan KSKP yang terpilih sampai tingkat nasional akan menjadi teladan dan memberi contoh positif bagi KSK lainnya di daerah masing-masing.
Bagi KSKP yang terpilih, reward ini akan menjadi kebanggaan tersendiri karena tidak semua KSK akan mendapatkan kesempatan langka dan berharga seperti bertemu dan berfoto bersama Prediden RI serta Kepala BPS RI, mengunjungi kantor pusat BPS RI, menghadiri rapat paripurna DPR MPR, mengikuti detik-detik peringatan proklamasi 17 Agustus, mendapatkan pembekalan materi tentang seluk-beluk BPS hingga kegiatan jalan-jalan di kawasan Ancol dan monas.
# Persiapan
Kegiatan KSKP tahun 2015 sebetulnya dilaksanaan tanggal 12-19 Agustus 2015 di Jakarta. Namun BPS Provinsi Jawa Timur (untuk selanjutnya saya singkat BPS Jatim) meminta saya untuk datang ke kantor BPS Jatim pada tanggal 11 Agustus 2015 untuk briefing persiapan menjelang ke Jakarta. Tepat jam 12.15 saya tiba di sana. Sambutan hangat saya terima dari Kasubag kepegawaian BPS  Jatim, bapak Ribut Hadi Candra.
Beliau begitu sumringah dan bahagia menyambut kedatangan saya. Kamipun memulai percakapan tentang persiapan perjalanan menuju Jakarta besok. Beliau meminta saya bersabar untuk bertemu dengan Kepala dan Kabag TU BPS Jatim, karena di saat yang bersamaan bapak Kepala dan Kabag TU sedang ada tamu dari BPS RI dan ada kegiatan lain yang sangat penting. Jika beruntung saya bisa bertemu dan mendapat sedikit wejangan dan arahan dari beliau semua.
Sembari menunggu, saya manfaatkan waktu untuk menimba ilmu dan sharing pengalaman dengan pegawai BPS Jatim.Saya masuk ke ruangan bagian kepegawaian dan tata usaha. Di sana saya bertemu dengan rekan sesama prajabatan tahun 2011, mas Rendi dan mbak Galuh. Wah nostalgia ceritanya.
Dari mbak Galuh saya mendapat informasi yang sangat berharga tentang persiapan tiket pesawat. Ternyata saya tidak perlu mengantre di loket bandara untuk registrasi Boarding pass. Cukup online saja sehari sebelumnya, maka kita bisa melakukan Boarding pass sekaligus pesan tempat duduk. Ehm, praktis nih. Oh iya, sekalian saya minta tolong untuk print bukti Boarding pass karena kebetulan tidak membawa smart phone ataupun tablet.
Cukup komunikasi dengan mbak Galuh, saya pindah bercakap-cakap dengan mas Iwan bagian urusan Penilaian angka kredit (PAK). Beliaulah yang mempunyai andil besar dalam hal diterima tidaknya nilai PAK yang kami usulkan. Saya akhirnya bisa mengorek informasi penting bagaimana mekanisme penilaian PAK yang selama ini saya dan rekan-rekan fungsional lain kurang begitu kami pahami. Alhamdulillah beliau mengupas dengan tuntas bagaimana mekanisme PAK serta tips dan triks agar PAK kami diterima tanpa catatan. Untuk penjelasan mengenai mekanisme PAK, Insya Allah akan saya bahas di kesempatan lain pada tulisan selanjutnya.
# Perjalanan Menuju Jakarta
Karena ini akan menjadi perjalanan pertama saya menaiki pesawat, maka saya banyak bertanya kepada orang-orang yang saya kenal dan pernah naik pesawat. Untunglah kesan positif yang saya dapatkan bahwa tidak perlu gugup karena semuanya Insya Allah akan baik-baik saja.
Sekitar jam 05.00 WIB saya telah tiba di Bandara Juanda, lebih cepat 45 menit dari jadwal keberangkatan agar saya bisa bertanya kepada petugas bandara tentang hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan. Untunglah semuanya sudah siap.
Sewaktu pesan online Boarding pass ,saya pilih kursi 35 A dengan pesawat Garuda 305. dekat jendela dan menghadap daratan pulau Jawa. Ya maklum ini pengalaman pertama saya naik pesawat, maka saya manfaatkan untuk memotret pulau jawa dari atas nantinya.
Sempat sedikit takut saya rasakan saat pesawat mulai take off, seperti naik roll coaster saya rasakan.Kurang lebih 2 menit setelahnya posisi pesawat sudah normal.Syukurlah, batin saya.Saya tengok lewat jendela, wah indahnya pemandangan awan yang tampak. Eh daratan pun terlihat. Kota-kota tampak kecil, kecil sekali. Dalam beberapa menit saja seperti sudah melewati satu kota/kabupaten.
Namun telinga saya seperti mendengung. Ah benar yang diceritakan orang-orang, perbedaan tekanan udara menyebabkan hal itu terjadi. Bahkan saya sempat merasakan urat syarat dari kepala menuju mata sakitnya minta ampun.
Akhirnya setelah kurang lebih 65 menit di udara, pesawat mendarat sempurna di Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta. Wah akhirnya tiba juga di Ibukota Negara tercinta, Jakarta. Sesuai petunjuk di undangan, maka saya langsung naik Bus Damri tujuan Gambir. Biayanya Rp.40.000, ya sepadan dengan jauhnya jarak yang ditempuh sekitar 1 jam.
Di Bus saya langsung berjumpa dengan KSKP dari provinsi lain, yaitu dari Kalimantan Barat. Dia mengenali saya dari jaket ST2013 yang memang sengaja saya kenakan agar mudah dikenali. Sekitar jam 09.00 WIB tibalah saya di belakang Stasiun Gambir, tempat bus terakhir berhenti. Ternyata di sana telah menunggu  panitia yang memandu kami menuju Hotel Lumire tempat kami menginap nantinya.
# Hari pertama, Rabu 12 Agustus 2015
Setelah tiba di hotel jam 12.00 WIB, kami harus menunggu hingga pukul 14.15 WIB untuk bisa masuk kamar karena proses check in baru dimulai. Pemilihan kamar sudah ditentukan dan saya sekamar dengan KSKP Jawa Barat, Adi Yuliandi, S. Kom, KSKP yang sebetulnya sangat tidak asing dengan kantor BPS RI karena dia 10 tahun pernah mengabdi di sana sebelum lolos tes menjadi KSK di kabupaten Purwakarta Jawa Barat.
Sekitar jam 18.30 WIB, seluruh KSKP berkumpul di ruang restoran hotel. Kami menikmati hidangan bersama-sama. Sempat saya berkenalan dengan beberapa rekan KSKP dari provinsi lain. Tepat jam 19.15 WIB kami diminta untuk berkumpul di lantai 3 gedung hotel untuk mengikuti kegiatan perkenalan KSK. Saya sajikan nama-nama KSKP beserta asal provinsinya dalam tabel di bawah ini.
Acara dipandu oleh Bapak Dr. Bonivasius P. Ichtiarto, S.Si selaku Kepala Bagian Kesejahteraan dan Pengembangan Pegawai Pusat serta bagian humas yaitu mbak Vivi, mbak Rani dan rekan-rekan bagian psikologi yang lain. Kami mengikuti serangkaian permainan yang bertujuan untuk mengakrabkan satu sama lain, seru dan menyenangkan. Acara berakhir jam 21.45 WIB. Ehm lelah juga hari ini, kini waktunya istirahat.
(Foto acara kumpul bersama persiapan kegiatan perkenalan)

# Hari kedua, Kamis 13 Agustus 2015
Hari ini kami mengawali aktivitas mulai jam 06.00 pagi. Setelah sarapan bersama di restoran Hotel Lumire, kami berangkat menuju kantor BPS RI menggunakan bus yang disedikan BPS tepat jam 06.30. sekitar 15 menit perjalanan, tibalah kami di kantor BPS RI. Hal pertama yang saya rasakan adalah rasa takjub, betapa besar dan megahnya kantor pusat BPS RI karena gedung BPS RI adalah kantor statistik termegah di seluruh dunia. Ada rasa bangga yang tak terkira manakala saya bisa datang dan berkeliling di komplek kantor BPS RI. Total ada 5 gedung yang menjulang tinggi sekitar 12 lantai masing tingginya sekitar 100 m. Di bagian depan kantor terdapat Air Mancur dengan ikon lambang sigma (∑) yang terkenal di kalangan pegawai BPS. Kami pun bergegas berfoto ria di depan air mancur itu bergantian.

(Foto peserta KSKP 2015 di depan Air Mancur dan Simbol ∑)

Bertemu dan Berfoto bersama Kepala BPS RI
Tak lama berselang, kami disambut oleh Ibu Sriwidadi Wijayanti T, S.Si (Kepala Bagian Mutasi Pegawai), Bapak Daryanto, M.M (Kepala Bagian Jabatan Fungsional) dan Bapak Suhardiyono, S.E
(Kepala Subbagian Mutasi Pegawai III). Setelah perkenalan dan pengarahan singkat dari beliau semua, kami memulai tur di BPS RI dengan diawali ke ruangan Kepala BPS RI, Bapak Dr.Suryamin, M.Sc. Alhamdulillah kami bisa bertemu bapak Suryamin di tengah padatnya jadwal beliau hari ini yang juga akan menghadiri rapat bersama Bapak Presiden RI.
Bapak Suryamin menyatakan rasa bangganya bisa bertemu dengan para KSKP seluruh Indonesia karena menurut beliau kamilah yang terbaik yang dikirim dari masing-masing provinsi. Padahal, justru kami yang bangga berkali-kali lipat karena bisa bertemu dengan orang nomor satu di kalangan BPS RI. Beliau menitip pesan pada kami agar kami menularkan keteladanan dan ilmu kepada KSK dan pegawai lain di daerah masing-masing selepas kami pulang nantinya.
Di akhir kesempatan ini, kami sempatkan berfoto bersama dengan Pak Suryamin. Wah ini bisa menjadi kenang-kenangan terindah yang akan kami tunjukkan pada rekan kami di daerah nantinya.

(Foto bersama Kepala BPS RI, Bapak Dr.Suryamin, M.Sc.)

Pembekalan Komunikasi
Setelah itu, kami mengikuti kegiatan pembekalan komunikasi dengan narasumber Bapak Yuliandre Darwis, Ph.D. Dosen ilmu komunikasi di beberapa universitas di Jakarta. Beliau memberikan kuliah singkat tentang pentingnya membina komunikasi yang baik, teknis dan tips membangun komunikasi yang bagus serta kesalahan-kesalahan dalam menjalin komunikasi dengan orang lain. Ini ilmu yang sangat berharga bagi kami karena memang kami rasakan apa yang disampaikan beliau benar adanya dengan penerapan di lapangan.


(Foto Bapak Andrie Darwis, Ph.D, berkacamata, pemateri komunikasi efektif)
Satu hal yang paling saya ingat adalah “untuk menjadi komunikator yang baik, maka jadilah pendengar yang baik. Jangan langsung masuk ke inti tugas dengan bertanya tentang kuesioner.Tapi dengarkan dulu curhat mereka, berikan pemahaman dan penjelasan yang tepat. Buat responden nyaman dan barulah kita masuk pada inti tugasnya”. Setelah 1 jam, tepat jam 10.00 WIB, kegiatan ini diakhiri. Beliau mengapresiasi ketepatan waktu pegawai BPS dalam menyusun dan melaksanakan kegiatan.

Pengukuhan KSKP 2015.
Inilah inti acara pada hari ini, Pengukuhan KSKP 2015. Momen sakral bagi kami karena kami akan disematkan medali penghargaan sebagai KSK berprestasi dari masing-masing provinsi. Jujur, ini sebuah amanat yang besar sekali karena saya akan menjadi “duta atau agen perubahan” untuk KSK lain di daerah nanti. Ehm semoga kami semua bisa konsisten untuk melakukan yang terbaik di daerah nantinya. Tapi Wallahua’lam. Barkan saja mengalir seperti arus air.
Kami lakukan gladi bersih terlebih dahulu agar pelaksanaan pengukuhan berjalan lancar. Tepat jam 11.00 WIB, acara pengukuhan dimulai. Kepala BPS dan para deputi beseta jajaran eselon I, II dan III mulai menempati tempat duduk masing-masing. Hadir pula sebagai penerima penghargaaan atas prestasinya menjadi creator logo SE 2016 yaitu mas Andre saleh Kasie IPDS Kabupaten Labuhan Batu Provinsi Sumatera Barat.
Kamipun mulai di panggil satu-persatu sesuai urutan provinsi di mulai dari Aceh. Sampai akhirnya giliran saya dipanggil MC, “KSKP Jawa Timur, Faishol Amir, S.Si, KSK Suboh BPS Kabupaten Situbondo”. Aduh dag dig dug rasanya. Untung semua berjalan lancar sampai acara selesai. Di akhir pengukuhan, kami berfoto bersama dengan jajaran petinggi BPS RI.

(Pengalungan medali oleh Kepala BPS RI)


(Foto bersama Kepala dan para deputi BPS RI)


Orientasi Kantor BPS RI
Acara terakhir hari ini melakukan kunjungan ke beberapa satuan kerja di BPS RI. Di mulai dengan ruang perpustakaan. Di sambut oleh Kepala Subdirektorat Layanan dan Promosi Statistik , Bapak Roby Darmawan  M.Eng. Di sana kami dibuat takjub, betapa canggihnya perpustakaan BPS RI. Semuanya berbasis digital. Mau isi buku tamu, isi dulu buku tamu digital. Itupun juga dilengkapi dengan daftar antrian sesuai tujuan kedatangan. Ada yang untuk konsultasi, cari buku, hingga untuk pembelian produk BPS. Mau cari buku, referensi dan data, ketik saja di komputer yang di sediakan. Wah semuanya serba komputer. Canggih benar…..kapan ya BPS di daerah seperti itu?.

(Foto konsultasi data untuk memudahkan customer mendapatkan data yang diinginkan)
Selanjutnya kami menuju bagian data center. Selama di sana, kami didampingi oleh Kepala subdirektorat Pengembangan Basis Data, Bapak Dr  Said Mirza Pahlevi  M.Eng.Inilah ruang paling rahasia di BPS, karena di ruangan ini semua data disimpan. Ada sensor suhu, cctv di setiap sudut, pintu dengan kode akses tertentu. Mirip seperti film-film di  TV. Kami saja tidak diperkenankan untuk memfoto, bersyukur kami bisa mengunjunginya. Rasa kagum saya kepada para pegawai yang bekerja di bagian  data center,  betapa hebatnya pegawai di sana karena mereka bekerja keras 24 jam untuk menjaga agar data BPS aman.
Tur selanjutnya menuju ruang tempat pencetakaan peta. Mirip seperti yang ada di tempat digital printing, ada mesin cetak besar yang tentu harganya sangat mahal. Di sana kami dijelaskan tentang seluk-beluk pembuatan peta. Ada informasi menarik dari Direktur Sistem Informasi Statistik, Dra.  Marlina Kamil  MM, dimana nantinya KSK tidak perlu lagi melakukan pembuatan sketsa peta secara manual karena semuanya akan terintegrasi secara digital dengan memadukan kecanggihan teknologi yang dimiliki. Betul-betul mantap. Di akhir pertemuan, kami diberi souvenir sebagai cinderamata. Terima kasih Ibu Dra.  Marlina Kamil  MM. Wah makin banyak nih oleh-oleh yang kami terima.

(Foto bersama di ruangan  pencetakan peta)

# Hari ketiga, Jumat 14 Agustus 2015
Menghadiri Rapat Paripurna di Gedung DPR-MPR RI
Hari ini kami akan mengikuti agenda yang sangat penting, menghadiri rapat paripurna terbuka DPR RI yang diawali dengan pidato kenegaraan oleh Presiden RI. Jadi kami harus bangun pagi-pagi sekali, jam 04.00 WIB. Setelah sarapan pagi yang cukup singkat, kami harus segera berangkat menuju senayan tempat gedung DPR MPR berada. Tepat jam 06.00 WIB kami tiba di sana. Ternyata undangan sudah hampir penuh.Wah senangnya bisa datang ke tempat wakil-wakil rakyat berada.
Rapat paripurna dihadiri oleh Presiden, wakil presiden RI, para mentri,kepala kementerian dan lembaga non kementrian, anggota DPR, MPR serta DPD. Selain itu juga ada undangan dari berbagai kalangan seperti pers dan teladan-teladan dari seluruh Indonesia, tentunya KSKP hadir disana.
Kami sempatkan untuk berfoto ria sebelum acara dimulai. Ada yang berfoto di air mancur, depan gedung DPR bahkan ada yang berfoto di depan mobil dinas para mentri. Narsis lah. Acara pun segera dimulai.Kami masuk satu-persatu melewati penjagaan yang sangat ketat. Untung sudah ditentukan tempat duduk sesuai undangan, jadi tidak sampai terjadi rebutan kursi. Dari 33 KSKP, ada dua KSKP yang diminta untuk menjadi wakil kami yang duduk di balkon dalam ruangan rapat paripurna. Terpilih KSKP Jabar dan Papua.Sedangkan KSKP lainnya duduk di Lobi gedung nusantara 3. Untung juga saya tidak terpilih di balkon, karena ternyata mereka yang duduk di balkon diawasi dengan sangat ketat. Untuk ke kamar kecil dan makan saja waktunya dibatasi. Sedangkan kami yang di lobi bebas berjalan-jalan, belanja dan makan. Bahkan kami bisa berfoto di beberapa sudut di gedung DPR ini, tapi tentu saja dengan menjaga sopan-santun bersama.

(Berfoto santai sebelum mengikuti acara Pidato kenegaraan dan rapat paripurna DPR MPR RI)

(Foto bersama Kepala BPS RI sesaat setelah sidang rapat paripurna)
Sidang paripurna berakhir sekitar jam 11.30 WIB. segera kami berkumpul di depan gedung “keong” untuk berfoto bersama Kepala BPS RI, Bapak Dr.Suryamin, M.Sc. Selepas itu kami bertolak menuju kantor pusat BPS RI. Rasa lelah kami rasakan sehingga banyak dari kami yang tertidur lelap di dalam bus, termasuk saya. Karena jalur pulang kami melewati masjid Istiqlal, beberapa rekan kami memilih untuk sholat jumat di sana. Namun pulangnya nanti berjalan kaki sekitar 20 menit menuju kantor BPS. Saya pribadi memilih sholat jumat di kantor BPS agar tidak terlalu lelah nantinya karena setelah sholat jumat, ada agenda pembekalan tentang Reformasi Birokrasi (RB) dan STATCAP CERDAS.

# Pembekalan tentang Reformasi Birokrasi (RB) dan STATCAP CERDAS.
Jam tepat di angka 14.00 WIB. Sebetulnya kondisi kami cukup lelah, namun kami akan mengkuti agenda yang sangat penting tentang RB dan STATCAP CERDAS. Acara di pandu oleh Bapak Dr. Bonivasius P. Ichtiarto, S.Si oleh Kepala Bagian Kesejahteraan dan Pengembangan Pegawai Pusat, dengan narasumber adalah Bapak Arie Sukarya,  M.Comm selaku Kepala Biro Bina Program BPS RI.
Dengan tema “Langkah Baru Menuju BPS Berkelas Dunia”, Pak Arie menjelaskan secara gamblang tentang apa itu RB dan Statcap Cerdas. Inti dari Statcap Cerdas adalah Program modernisasi dan reformasi kita, meningkatkan efektivitas dan efisiensi, memproduksi dan menyediakan data yang lebih berkualitas, serta cepat tanggap terhadap kebutuhan pengguna data.Statcap Cerdas adalah RB di dalam tubuh BPS. Sedangkan Tujuan dari RB sendiri adalah pemerintah yang bersih dari KKN, efektifitas dan efisiensi kegiatan pemerintah, peningkatan kualitas pengambilan kebijakan dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Ada  tiga hal menarik yang di sampaikan pak Arie pada kesempatan itu. Pertama, ke depannya BPS akan memodernisasi pendataan dengan basis IT. Jadi mendata tanpa memakai kuesioner kertas tapi memakai tablet. Tinggal klik tombol  sajamaka data akan terkirim secara online. Di situlah diketahui nantinya apakah KSK bekerja jujur atau tidak karena segalanya termonitor secara langsung, kapan dan dimata pendataan itu dilakukan. Ehm semacam perekam jejak.
Kedua, KSK akan betul-betul difungsikan sebagai Koordinator, bukan lagi sebagai pencacah seperti yang terjadi saat ini. Jadi nantinya KSK yang akan memonitor, mengawasi, mengkoordinir kegiatan pencacahan yang dilakukan mitra BPS yang posisinya nanti akan dikontrak setahun sesuai amanat peraturan perundang-undangan tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Jadi KSK sebagai pengawas sekaligus koordinator, mitra BPS sebagai pencacah.
Ketiga, ini yang sekaligus menjawab keragu-raguan KSK dalam posisinya apakah akan dikembalikan ke kecamatan atau tetap berkantor di kabupaten/ kota. Pak Arie dengan tegas menyampaikan tidak ada toleransi dalam menegakkan aturan. Kalau ada pengecualian untuk beberapa kasus misalnya yang tinggal di kecamatan kepulauan atau lainnya, maka aturan ini tidak akan pernah bisa ditegakkan. Bahwa KSK yang domisilinya jauh dari kantor BPS kabupaten/ kota harus menyesuaikan diri dan memilih untuk berdomisili di sekitar kantor. Karena KSK fungsinya selain sebagai koordinator di kecamatan juga sebagai staff BPS kabupaten.

# Hari keempat, Sabtu 15 Agustus 2015
Selama kegiatan KSKP berlangsung, ada 2 hari yang dikhususkan bagi kami untuk bersantai dan bertamasya, kami sebut “pengenalan Peta WA di hari Sabtu dan Pemetaan Peta WB di hari Minggu”. Hehehe…
Di hari sabtu ini, kami mengunjungi Pantai Wisata Ancol dan arena bermain Dufan yang terletak dalam satu kawasan. Kami berangkat jam 07.00 WIB. Di sana kami menikmati beberapa wahana yang cukup membuat adrenaline kami meningkat seperti wahana Histeria dan Tornado. Awalnya takut untuk mencoba, namun jika tak pernah berani, maka selamanya tak akan pernah bisa. Ada hikmah positif yang saya dapatkan.Dan akhirnya saya beranikan diri mencoba.Rasanya jantung dan lutut ini dicabut, perut dikocok dan perasaan mulas.Tapi kepuasan yang saya dapatkan.Ternyata saya berani juga. Sempat terfikir akan lebih menyenangkan jika mengajak anak dan istri suatu saat nanti. Ya Insya Allah saya akan kembali bersama mereka suatu saat nanti. Semoga terwujud.Amin.

(Foto saat menikmati salah satu wahana yang menyenangkan di DUFAN, yaitu Tornado)
Sekitar jam 16.00 WIB kami menyudahi kegiatan hari ini dan kembali ke hotel. Lelah dan capek, namun senang pula karena kami bisa menikmati wisata setelah 3 hari sebelumnya berturut-turut mengikuti kegiatan resmi. Sebelum pulang kami sempatkan berbelanja baju untuk anak istri. Oh iya lebih baik belanja di wilayah parkir dan setelah pintu keluar karena harga barangnya lebih murah. Namun kembali ke selera masing-masing ya.

# Hari Kelima, Minggu 16 Agustus 2015
Hari ini agenda kegiatan kami adalah mengikuti kegiatan  Car Free Day  di bundaran HI, mengunjungi taman Monumen Nasional (Monas), dan kawasan belanja ITC Mangga Dua. Karena padatnya agenda, maka kami bangun pagi sekali dan harus berkumpul tepat jam 05.00 WIB. Setalah sarapan secukupnya, berangkatlah kami menuju Bundaran HI. Ternyata sudah banyak mesyarakat yang berkunjung di sana. Kami puas-puaskan diri berfoto di sana. Cukup singkat, sekitar 1 jam kami kembali ke bus karena tujuan selanjutnya adalah Monas.
Untuk bisa masuk Monas cukup membayar tiket Rp. 2.000. Namun tiket sudah ditanggung panitia agar efisien. Setelah memasuki bagian bawah monas tempat diorama sejarah bangsa disajikan, kami dipandu oleh tour guide yang menjelaskan kepada kami seperlunya tentang masing-masing diorama itu. Karena untuk bisa menaiki menara sampai puncak harus antre 3 jam, maka panitia memutskan untuk tidak usaha naik saja agar waktu tidak terbuang percuma. Sehingga kami melanjutkan agenda menuju ITC.

(Foto bersama di depan MONAS)
Sekitar jam 10.30 WIB kami tiba di ITC, di sana kami diberi waktu hingga jam 14.30 WIB untuk berbelanja oleh-oleh dan barang keperluan lainnya. Banyak dari kami berbelanja baju dan perangkat elektronik seperti aksesoris HP dan Laptop.
Sesuai dengan jadwal, kami bertolak menuju hotel jam 15.00 WIB. Istirahat dulu karena besok kami akan mengikuti kegiatan paling penting yaitu menghadiri peringatan proklamasi 17 Agustus.



# Hari Keenam, Senin 17 Agustus 2015
Inilah hari yang paling ditunggu-tungu oleh kami, hari peringatan kemerdekaan RI yang ke-70. Sebelumnya saya ucapkan “Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-70 tahun. Semoga Indonesia benar-benar merdeka di segala sektor. Baik pendidikan, ekonomi, sosial, politik dan budaya”.

(Foto undangan peringatan detik-detik proklamasi di Istana Negara Jakarta)

Jam 05.00 WIB kami sudah siap rapi dengan setelan jas, kemeja putih, peci dan medali yang harus kami kenakan. Tak lupa undangan masuk kami bawa serta. Kami tiba di Istana negara waktu matahari belum muncul benar. Di sana kami urutan kedua rombongan yang datang setelah rombongan dari Kementrian Kesehatan. Setelah antri sekitar 2 jam, pintu akhirnya dibuka dan kami masuk satu-persatu. Awalnya berdesak-desakan dan terkesan saling rebutan dengan rombongan lain. Tapi Alhamdulillah kami bisa masuk sesuai urutan. Kami tergabung dalam barisan C dan mendapat tempat duduk di barisan terdepan. Beruntung kami juga mendapat lokasi tempat duduk yang teduh karena membelakangi matahari terbit.

(Foto sebelum kegiatan peringatan detik-detik proklamasi di Istana Negara)

Momen sakral acara peringatan detik-detik proklamasi berjalan lancar dan hikmat. Ada persembahan lagu-lagu nasional dan daerah yang disajikan secara rancak oleh paduan suara dan orkestra Gita Bahana, ada peragaan pesawat tempur yang suaranya menggelegar dan pertunjukan lain yang tidak kalah bagusnya. Getar terasa di dada ini manakala lagu kebangsaan dan bendera merah putih dikibarkan. Semoga rasa nasionalisme ini terus membuncah untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Amin.
Akhirnya rangkaian peringatan detik-detik proklamasi berakhir pukul 12.00 WIB. Kami segera berkumpul di depan Istana Negara untuk berfoto bersama. Tak lupa sebelum pulang, kami sempatkan belanja souvenir berupa gantungan kunci, bolpoin, pin, dll untuk kami hadiahkan kepada saudara dan rekan kami di daerah masing-masing. Setelah itu kami pulang ke hotel untuk beristirahat agar besok kami bisa lebih fresh untuk mengikuti agenda selanjutnya.

# Hari ketujuh, Selasa 18 Agustus 2015
Ramah Tamah bersama Presiden RI
Hari ini kami akan melewati beberapa agenda yang padat dan menguras energi. Boleh dikatakan ini hari terkahir kami mengikuti serangkaian kegiatan KSKP 2015.
Agenda hari ini dimulai dengan acara ramah-tamah dengan presiden RI di Istana negara Bogor. Tepat jam 05.00 WIB, kami sudah siap berangkat menuju Kota Bogor. Saat melewati jalan tol menuju Bogor, tampak kemacetan mengular panjang sekitar 15 KM dari arah Bogor menuju Jakarta. Hal ini biasa terjadi karena banyak warga Bogor, Bekasi, Cikampek, dan sekitar Jabotabek yang bekerja ke Jakarta sehingga kemacetan sering terjadi. Untung saya tidak bekerja di Jakarta, mungkin stres yang saya alami manakala pergi dan pulang kerja selalu macet, macet dan macet.
Sampai di Kota Bogor sekitar jam 06.15 WIB kami disambut kemacetan di jalan menuju Kebun Raya Bogor yang sekomplek dengan Istana Bogor. Ternyata hal ini karena banyaknya Lin/ angkot (angkutan umum) yang ngetem maupun menurunkan penumpang di sembarang tempat. Karena inilah selain disebut sebagai kota hujan, bogor juga dikenal dengan kota 1000 angkot.
Sekitar jam 07.00 WIB kami mulai memasuki kawasan Istana Bogor. Kali ini tempat duduk sudah ditentukan berdasarkan rombongan. Namun apesnya, kami mendapatkan jatah tempat duduk yang disinari langsung oleh matahari. Alamat kepanasan ini. Hehehe…
Kegiatan ramah tamah tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya saat presiden dijabat bapak SBY. Biasanya ramah tamah diselenggarakan di Jakarta Internasional EXPO pada malam hari. Namun kali ini presiden Jokowi menginginkan dilaksanakan pagi hari di Istana Bogor. Mungkin agar para teladan yang diundang juga bisa tahu dan mengenal Istana Bogor.
Rangkaian kegiatan ramah tamah ini meliputi pidato sambutan presiden RI tentang bangganya beliau bisa mengundang para teladan dari berbagai kementrian dan instansi seluruh Indonesia, kegiatan penuturan kisah beberapa teladan yang diberi kesempatan maju ke depan panggung dan menceritakan kondisi di daerah masing-masing dan acara diakhiri dengan foto bersama Presiden, Wakil, para mentri dan kepala Intansi yang terkait.

(Foto bersama Presiden, Wakil, para Mentri dan Kepala BPS RI)

Pembekalan Materi Data Strategis
Tepat jam 12.00 WIB acara ramah tamah berakhir dan kami langsung pulang menuju Kantor BPS RI untuk agenda selanjutnya yaitu pembekalan materi tentang Data strategis BPS oleh Bapak Dr. Margo Yuwono, Direktur Analisis dan Pengembangan Statistik BPS RI pada jam 14.00 WIB.
Beliau menjelaskan tentang betapa BPS sangat dibutuhkan oleh seluruh kalangan dan ditungu-tunggu kehadiran datanya. Utamanya pada beberapa data strategis seperti PDRB, Inflasi, kemiskinan dan gini ratio, data perhitungan DAU, serta data tentang pengangguran dan masih banyak data-data strategis lainnya.
Beliau juga menuturkan betapa pentingnya setiap poin pada setiap pendataan, survei dan sensus yang kami lakukan dilakukan. Bahwa perencanaan, evaluasi, penentuan target pembangunan, dasar penentuan alokasi dana perimbangan, bahan penelitian serta kebijakan strategis pemerintah seperti ekspor-impor semuanya tergantung dan mengacu pada data BPS.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.05 WIB. Kami diberi kesempatan ISHOMA sebelum acara selanjutnya dimulai yaitu pembekalan materi kepegawaian yang dibawakan oleh Bapak Akhmad Jaelani, Kepala Biro Kepegawaian BPS RI.

Pembekalan Materi Kepegawaian
Bapak Jaelani menjelaskan secara rinci dan runut tentang PNS/ ASN. Diawali dengan kewajiban dan larangan tentang ASN yang tercantum dalam PP No.53 tahun 2010. Dilanjutkan tentang pengembangan SDM utamanya pada masalah jenjang karir pegawai dimana akan diberlakukan sistem lelang jabatan sesuai perka no 12 dan 13 tahun 2015 untuk jabatan pimpinan tinggi, administrator dan pengawas. Selanjutnya tentang penilaian kinerja sesuai PP nomor 46 tahun 2011 serta perka BKN nomor 1 tahun 2013 bahwa Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) ditambah Perilaku Kerja (PK) akan menghasilkan Capaian kinerja Pegawai (CKP) yang akan di-input secara on line dan menjadi dasar penentuan Tunjangan kinerja (TK) yang selaras dengan Perka BPS RI nomor 77 tahun 2012 bahwa tiga komponen TK adalah pencapaian kinerja, kehadiran, dan kode etik/kedisiplinan.

Pelepasan dan Penutupan Kegaiatan KSKP 2015
Akhirnya rangkaian acara KSKP 2015 diakhiri dengan acara pelepasan dan penutupan. Seluruh KSKP diajak untuk bersenandung bersama membawakan lagu-lagu favorit pilihan. Sejenak rasa haru mengelayuti hati manakala kami akan segera berpisah dan kembali ke daerah masing-masing. Kami seperti sudah menjadi saudara meski hanya 8 hari kami bertemu, berkomunikasi. Enggan rasanya berpisah, namun kami harus kembali dan menceritakan segudang kisah kami pada rekan-rekan di daerah dan berharap KSK lainnya yang belum pernah mengikuti KSKP akan terlecut semangatnya untuk mengikuti jejak kami.

(Foto saat kami hendak kembali ke daerah masing-masing)
Akhir tulisan ini, saya berterima kasih sebesar-besarnya  kepada BPS, panitia dan seluruh pihak yang membantu kami sehingga bisa ikut dalam rangkaian kegiatan KSKP tahun 2015. Ah akhirnya saya menyudahi cerita ini dan beraktivitas seperti sedia kala dengan semangat baru, semangat untuk menjadikan BPS sebagai “BPS Berkelas Dunia”. Amin.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Situbondo Jawa Timur, 20 Agustus 2015
KSK Suboh Kabupaten Situbondo

Rabu, 10 Desember 2014

Kenaikan BBM dan Anjoknya Harga Minyak Dunia

 (Judul Asli: Sejahtera Dengan Data) Dimuat di Harian Radar Banyuwangi Tanggal 21 November 2014

Akhir-akhir ini, masyarakat diresahkan dengan berita kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Bukan desas-desus semata, hal itu dipertegas oleh presiden Jokowi usai menghadiri acara Halal-bihalal bertema 'Sarasehan Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan' di Pondok Pesantren Al-Hikam, Kecamatan Beji, Depok, Sabtu (30/8/2014). 
"Setelah saya dilantik, baru kenaikan itu akan dilakukan. Ini merupakan hak prerogratif kepala negara. Hampir setengah dari anggaran APBN kita hilang, dan programnya tidak tepat sasaran. Sudah ada pembicaraan dengan tim dan beberapa menteri terkait formasi kenaikan BBM," (Berita www.jpnn.com).
 Dan akhirnya BBM benar-benar Naik. Tentu saja kenaikan BBM berdampak banyak bagi perekonomian sebagian besar masyarakat, karena harga bahan-bahan kebutuhan pokok juga akan meningkat. Ongkos transportasi pun pasti bakal naik. Sehingga yang merasakan dampak langsungnya adalah masyarakat bawah. 
Asumsi kenaikan BBM menurut Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu, Askolani, karena pelemahan nilai tukar rupiah telah menyebabkan potensi kenaikan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada bulan lalu melebihi pagu APBN Perubahan2014 sebesarRp 246,5 triliun (Berita www.bisnis.liputan6.com). 
 Perlu diketahui, nilai tukar Rupiah terhadap dollar Amerika berkisar pada Rp.12.160/ dollar atau melemah Rp.13 dibandingkan 5 hari sebelumnya. Sedangkan harga minyak mentah dunia saat ini berkisar pada US$ 78,81 per barel (WTI) atau naik US$ 1,62 dibandingkan 5 hari sebelumnya (data Senin, 10 November 2014). Pelemahan nilai tukar rupiah lebih berdampak besar daripada kenaikan harga minyak mentah dunia. Dengan logika sederhana harga yang harus dibayarkan per 1 barel minyak mentah yang dibeli pemerintah pada tanggal 5 November adalah Rp 937.626,93.Sedangkan pada tanggal 10 November, harganya menjadi Rp.958.329,6 Anjloknya harga minyak mentah dunia pada bulan ini diprediksikan oleh para ekonom hanya bersifat sementara. Jadi dapat dibayangkan jika harga minyak mentah dunia kembali naik pada kisaran US$ 100 per barel, maka semakin membengkak pula anggaran subsidi Negara untuk BBM. Itulah yang menjadi pertimbangan utama pemerintah Jokowi untuk menaikkan harga BBM. 

Penduduk Miskin dan Kartu Sakti Indonesia 
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS RI, jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2014 mencapai 28,28 juta jiwa atau 11,25% dari jumlah penduduk Indonesia. Dengan naiknya harga BBM, jumlah penduduk miskin diperkirakan akan bertambah karena pendapatan penduduk yang cenderung tetap, namun pengeluaran untuk kebutuhan hidup yang semakin meningkat. 
Namun pemerintah Jokowi telah mengantisipasi dampak tersebut dengan mengeluarkan kebijakan Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) yang ditandai dengan pembagian kartu sakti yang meliputi Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diperuntukkan bagi rumah tangga miskin. Nominal untuk setiap kartu juga lumayan. Untuk KKS diperkirakan Rp.200.000/bulan, untuk KIP siswa SD/MI Rp.450.000/ tahun, siswa SMP/MTs Rp.750.000/ Tahun dan siswa SMA/SMK/MA Rp.1.000.000/tahun. 

BDT dan PPLS
 Data untuk penerima Kartu sakti didapat dari Basis Data Terpadu (BDT) yang diolah oleh Tim Nasional Percepatan Pemberantasan Kemiskinan (TNP2K). Sedangkan sumber utama BDT adalah hasil kegiatan Pendataan Program Perlindungan Sosial yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Juli - Desember 2011 (PPLS 2011). 
Jumlah rumah tangga sasaran (RTS) penerima Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) tercatat sebesar 15,5 juta, sama persis dengan jumlah penerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) saat pemerintah menaikkan BBM pada 2013. 
 Memang masih banyak yang meragukan keakuratan data, terlebih data yang dipakai adalah data 3 tahun lalu. Namun walaupun menggunakan data lama, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa data akan divalidasi setiap 6 bulan sekali. (Berita www.bisnis.com). 

Data Mensejahterakan Bangsa
Dalam sejarahnya, BPS telah tiga kali melaksanakan kegiatan Pendataan Rumah Tangga Sasaran (RTS) by name by address, yaitu: Pendataan Sosial Ekonomi (PSE) 2005 untuk menentukan siapa yang memperoleh Bantuan Langsung Tunai (BLT) dengan Rumah Tangga Sasaran (RTS) sebanyak 19,1 juta, PPLS 2008 sebagai updating PSE 2005 dengan RTS sebanyak 17,5 juta atau 60,4 juta anggota rumah tangga, dan yang terakhir adalah PPLS 2011 yang menghasilkan Basis data terpadu atau Unifikasi data targeting pelbagai perlindungan sosial. Dengan RTS mencakup 40 persen kelompok masyarakat bawah. 
Dalam setiap kegiatannya, petugas pencacahan dipilih kandidat terbaik dari masing-masing desa. Kemudian diberi pelatihan agar tercapai keseragaman konsep dan definisi. Setelah itu ada ujian sebelum terjun kelapangan. Sehingga diharapkan petugas yang terpilih betul-betul siap dalam melaksanakan pendataan dan bekerja secara jujur dan bertanggungjawab. 
Dalam pelaksanaan tugasnya, petugas sering menemui banyak kendala seperti intervensi beberapa pihak yang ingin menggelembungkan jumlah RTS, banyaknya masyarakat ekonomi mampu yang juga ingin didata, adanya isu kurangnya koordinasi dengan pihak aparat desa, ketua RW atau RT, sampai mepetnya waktu yang disediakan untuk melakukan pendataan. Tentu itu akan menekan mental dan memeras tenaga petugas. Jika saja petugas bekerja setengah hati dan mudah di-intervesi, maka data yang dihasilkan kurang akurat dan bahkan salah sasaran. 
Oleh karena itu, kedepannya diharapkan petugas yang terpilih dalam kegiatan PPLS selanjutnya harus betul-betul handal, bertanggung jawab dan bermental baja. Koordinasi dengan aparat RT, RW, Kepala dusun dan aparat desa pun juga perlu ditingkatkan agar nantinya data yang dihasilkan betul-betul valid, tepat sasaran dan berkualitas. Tentunya data yang berkualitas akan mensejahterakan bangsa. 
 Faishol Amir, S.Si 
KSK Suboh BPS Kab.Situbondo

Sabtu, 15 November 2014

Menakar Peran Pemuda Saat Ini



Menakar Peran Pemuda Saat Ini
(Diterbitkan di harian Radar Banyuwangi edisi 14 November 2014)

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati sejarah lahirnya sumpah pemuda. Tepat 86 tahun lalu, perwakilan pemuda dari berbagai penjuru di Indonesia berkumpul menyuarakan cita-cita mereka, persatuan demi kemerdekaan.
Sumpah pemuda adalah tonggak awal perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda yang berasal dari berbagai suku, ras dan agama bersatu padu menyatakan “ke-bhineka tunggal lka-an” mereka. Dengan deklarasi satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia, mereka telah menunjukkan pada seluruh rakyat saat itu bahwa mereka ada untuk bangsa.
Peran Pemuda
Definisi pemuda setidaknya memiliki tiga kategori, yaitu menyangkut batasan usia pemuda, sifat atau karakteristik pemuda, dan tujuan dari aktivitas kepemudaan (Ekki Nuari Hakim, 2011). Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people.
Jika menilik data Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2010-2035 yang dihasilkan BPS, jumlah penduduk usia 10-24 pada tahun 2014 mencapai 65, 74 juta jiwa. Artinya 26,01% penduduk Indonesia adalah yang mereka yang disebut pemuda.
Pemuda identik dengan kreativ, inovatif  dan pendorong perubahan. Oleh karena itu, peran penting pemuda bagi bangsa adalah mengubah pola hidup dan tingkah laku masyarakat yang cenderung individualis, apatis, permisif pada ketidakjujuran dan perilaku korupsi serta gaya hidup hedonis dan konsumtif. Sehingga akan terbentuk suatu masyarakat yang berpradaban, tertib dan maju.
Telah banyak contoh peranan pemuda bagi bangsa Indonesia. Deklarasi Sumpah Pemuda dan kemerdekaan Indonesia adalah contoh konkritnya. Bahkan bapak proklamator Indonesia, Soekarno, menggambarkan besarnya peran pemuda lewat kutipannya, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.
Kondisi Pemuda Saat Ini
Setelah melewati perjuangan yang panjang, bangsa Indonesia akhirnya memperoleh kemerdekaanya pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun selama 69 tahun merdeka, bangsa Indonesia tidaklah sepenuhnya lepas dari bayang-bayang penjajahan. Bukan ancaman fisik dari bangsa lain atau aksi terorisme yang ditakutkan. Lebih dari itu, Indonesia, khususnya para pemudanya sedang mengalami penjajahan moral.
Ya, moral para pemuda saat ini tengah terdegradasi sangat akut. Sering kita lihat di media, betapa banyak pemuda kita terjerumus dalam pengaruh narkoba, miras, pergaulan bebas dan kecintaan berlebih pada budaya bangsa lain sehingga lupa pada budaya sendiri. Bahkan pernah dalam sebuah tayangan televisi swasta, saat beberapa anak muda ditanya tentang tanggal kemerdekaan Indonesia, isi Pancasila, isi sumpah pemuda dan pertanyaan yang berkaitan dengan nasionalisme Indonesia, mereka tidak tahu. Ini seakan menjadi ironi, pemuda yang seharusnya menjadi the next leader justru  lupa dengan identitas bangsa dan terombang-ambing pada dunia hedonis yang melenakan.
Bagi seorang pemuda, pengakuan atas eksistensi dan harga dirinya oleh masyarakat adalah penghargaan yang tak terbatas nilainya. Oleh karena itu, dalam rangka pencarian jati diri, seringkali pemuda tergelincir dalam godaan-godaan yang menjerumuskannya dalam lobang keterpurukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang ingin dicap jagoan dan pemberani rela mempertaruhkan nyawanya demi ikut-ikutan tawuran tanpa tahu maksud dan tujuannya.  Para artis yang ingin tampil percaya diri nekat mengkonsumsi narkoba dan atlet yang ingin menang pada lomba atletik dengan secara mengkonsumsi doping.  
Memang tidak semua pemuda seperti kondisi di atas, masih banyak pula pemuda yang menorehkan prestasi sampai kancah internasional. Dalam kejuaraan olimpiade matematika dan fisika tingkat dunia contohnya, Indonesia selalu menjadi langganan juara.
Pemuda, Mari Bangkit
Eksistensi para tokoh pencetus sumpah pemuda seharusnya menjadi penyemangat pemuda saat ini. Bahwa perjuangan harus dilanjutkan. Momentum sumpah pemuda seharusnya menjadi refleksi kita semua untuk kembali menata tujuan hidup. Bagi para pelajar, selain belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh, mengisi aktivitas sehari-hari dengan kegiatan positis harus terus ditingkatkan. Pun juga dengan para pemuda pada umumnya, kembangkanlah potensi diri masing-masing dengan kreatif dan inovatif. Sehingga kita bisa berkarya dan menorehkan prestasi yang membanggakan. Dengan sendirinya pengakuan dari masyarakat akan mengalir. Bangsa ini akan dipenuhi oleh pemuda-pemuda kreatif. Maka bukanlah tidak mungkin jika 5, 10 atau beberapa tahun lagi Indonesia akan menjadi bangsa yang besar, maju dan mapan. Semoga...


Faishol Amir, S.Si
KSK Suboh BPS Kab.Situbondo.