Rabu, 10 Desember 2014

Kenaikan BBM dan Anjoknya Harga Minyak Dunia

 (Judul Asli: Sejahtera Dengan Data) Dimuat di Harian Radar Banyuwangi Tanggal 21 November 2014

Akhir-akhir ini, masyarakat diresahkan dengan berita kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Bukan desas-desus semata, hal itu dipertegas oleh presiden Jokowi usai menghadiri acara Halal-bihalal bertema 'Sarasehan Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan' di Pondok Pesantren Al-Hikam, Kecamatan Beji, Depok, Sabtu (30/8/2014). 
"Setelah saya dilantik, baru kenaikan itu akan dilakukan. Ini merupakan hak prerogratif kepala negara. Hampir setengah dari anggaran APBN kita hilang, dan programnya tidak tepat sasaran. Sudah ada pembicaraan dengan tim dan beberapa menteri terkait formasi kenaikan BBM," (Berita www.jpnn.com).
 Dan akhirnya BBM benar-benar Naik. Tentu saja kenaikan BBM berdampak banyak bagi perekonomian sebagian besar masyarakat, karena harga bahan-bahan kebutuhan pokok juga akan meningkat. Ongkos transportasi pun pasti bakal naik. Sehingga yang merasakan dampak langsungnya adalah masyarakat bawah. 
Asumsi kenaikan BBM menurut Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu, Askolani, karena pelemahan nilai tukar rupiah telah menyebabkan potensi kenaikan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada bulan lalu melebihi pagu APBN Perubahan2014 sebesarRp 246,5 triliun (Berita www.bisnis.liputan6.com). 
 Perlu diketahui, nilai tukar Rupiah terhadap dollar Amerika berkisar pada Rp.12.160/ dollar atau melemah Rp.13 dibandingkan 5 hari sebelumnya. Sedangkan harga minyak mentah dunia saat ini berkisar pada US$ 78,81 per barel (WTI) atau naik US$ 1,62 dibandingkan 5 hari sebelumnya (data Senin, 10 November 2014). Pelemahan nilai tukar rupiah lebih berdampak besar daripada kenaikan harga minyak mentah dunia. Dengan logika sederhana harga yang harus dibayarkan per 1 barel minyak mentah yang dibeli pemerintah pada tanggal 5 November adalah Rp 937.626,93.Sedangkan pada tanggal 10 November, harganya menjadi Rp.958.329,6 Anjloknya harga minyak mentah dunia pada bulan ini diprediksikan oleh para ekonom hanya bersifat sementara. Jadi dapat dibayangkan jika harga minyak mentah dunia kembali naik pada kisaran US$ 100 per barel, maka semakin membengkak pula anggaran subsidi Negara untuk BBM. Itulah yang menjadi pertimbangan utama pemerintah Jokowi untuk menaikkan harga BBM. 

Penduduk Miskin dan Kartu Sakti Indonesia 
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS RI, jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2014 mencapai 28,28 juta jiwa atau 11,25% dari jumlah penduduk Indonesia. Dengan naiknya harga BBM, jumlah penduduk miskin diperkirakan akan bertambah karena pendapatan penduduk yang cenderung tetap, namun pengeluaran untuk kebutuhan hidup yang semakin meningkat. 
Namun pemerintah Jokowi telah mengantisipasi dampak tersebut dengan mengeluarkan kebijakan Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) yang ditandai dengan pembagian kartu sakti yang meliputi Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diperuntukkan bagi rumah tangga miskin. Nominal untuk setiap kartu juga lumayan. Untuk KKS diperkirakan Rp.200.000/bulan, untuk KIP siswa SD/MI Rp.450.000/ tahun, siswa SMP/MTs Rp.750.000/ Tahun dan siswa SMA/SMK/MA Rp.1.000.000/tahun. 

BDT dan PPLS
 Data untuk penerima Kartu sakti didapat dari Basis Data Terpadu (BDT) yang diolah oleh Tim Nasional Percepatan Pemberantasan Kemiskinan (TNP2K). Sedangkan sumber utama BDT adalah hasil kegiatan Pendataan Program Perlindungan Sosial yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Juli - Desember 2011 (PPLS 2011). 
Jumlah rumah tangga sasaran (RTS) penerima Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) tercatat sebesar 15,5 juta, sama persis dengan jumlah penerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) saat pemerintah menaikkan BBM pada 2013. 
 Memang masih banyak yang meragukan keakuratan data, terlebih data yang dipakai adalah data 3 tahun lalu. Namun walaupun menggunakan data lama, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa data akan divalidasi setiap 6 bulan sekali. (Berita www.bisnis.com). 

Data Mensejahterakan Bangsa
Dalam sejarahnya, BPS telah tiga kali melaksanakan kegiatan Pendataan Rumah Tangga Sasaran (RTS) by name by address, yaitu: Pendataan Sosial Ekonomi (PSE) 2005 untuk menentukan siapa yang memperoleh Bantuan Langsung Tunai (BLT) dengan Rumah Tangga Sasaran (RTS) sebanyak 19,1 juta, PPLS 2008 sebagai updating PSE 2005 dengan RTS sebanyak 17,5 juta atau 60,4 juta anggota rumah tangga, dan yang terakhir adalah PPLS 2011 yang menghasilkan Basis data terpadu atau Unifikasi data targeting pelbagai perlindungan sosial. Dengan RTS mencakup 40 persen kelompok masyarakat bawah. 
Dalam setiap kegiatannya, petugas pencacahan dipilih kandidat terbaik dari masing-masing desa. Kemudian diberi pelatihan agar tercapai keseragaman konsep dan definisi. Setelah itu ada ujian sebelum terjun kelapangan. Sehingga diharapkan petugas yang terpilih betul-betul siap dalam melaksanakan pendataan dan bekerja secara jujur dan bertanggungjawab. 
Dalam pelaksanaan tugasnya, petugas sering menemui banyak kendala seperti intervensi beberapa pihak yang ingin menggelembungkan jumlah RTS, banyaknya masyarakat ekonomi mampu yang juga ingin didata, adanya isu kurangnya koordinasi dengan pihak aparat desa, ketua RW atau RT, sampai mepetnya waktu yang disediakan untuk melakukan pendataan. Tentu itu akan menekan mental dan memeras tenaga petugas. Jika saja petugas bekerja setengah hati dan mudah di-intervesi, maka data yang dihasilkan kurang akurat dan bahkan salah sasaran. 
Oleh karena itu, kedepannya diharapkan petugas yang terpilih dalam kegiatan PPLS selanjutnya harus betul-betul handal, bertanggung jawab dan bermental baja. Koordinasi dengan aparat RT, RW, Kepala dusun dan aparat desa pun juga perlu ditingkatkan agar nantinya data yang dihasilkan betul-betul valid, tepat sasaran dan berkualitas. Tentunya data yang berkualitas akan mensejahterakan bangsa. 
 Faishol Amir, S.Si 
KSK Suboh BPS Kab.Situbondo

Sabtu, 15 November 2014

Menakar Peran Pemuda Saat Ini



Menakar Peran Pemuda Saat Ini
(Diterbitkan di harian Radar Banyuwangi edisi 14 November 2014)

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati sejarah lahirnya sumpah pemuda. Tepat 86 tahun lalu, perwakilan pemuda dari berbagai penjuru di Indonesia berkumpul menyuarakan cita-cita mereka, persatuan demi kemerdekaan.
Sumpah pemuda adalah tonggak awal perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda yang berasal dari berbagai suku, ras dan agama bersatu padu menyatakan “ke-bhineka tunggal lka-an” mereka. Dengan deklarasi satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia, mereka telah menunjukkan pada seluruh rakyat saat itu bahwa mereka ada untuk bangsa.
Peran Pemuda
Definisi pemuda setidaknya memiliki tiga kategori, yaitu menyangkut batasan usia pemuda, sifat atau karakteristik pemuda, dan tujuan dari aktivitas kepemudaan (Ekki Nuari Hakim, 2011). Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people.
Jika menilik data Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2010-2035 yang dihasilkan BPS, jumlah penduduk usia 10-24 pada tahun 2014 mencapai 65, 74 juta jiwa. Artinya 26,01% penduduk Indonesia adalah yang mereka yang disebut pemuda.
Pemuda identik dengan kreativ, inovatif  dan pendorong perubahan. Oleh karena itu, peran penting pemuda bagi bangsa adalah mengubah pola hidup dan tingkah laku masyarakat yang cenderung individualis, apatis, permisif pada ketidakjujuran dan perilaku korupsi serta gaya hidup hedonis dan konsumtif. Sehingga akan terbentuk suatu masyarakat yang berpradaban, tertib dan maju.
Telah banyak contoh peranan pemuda bagi bangsa Indonesia. Deklarasi Sumpah Pemuda dan kemerdekaan Indonesia adalah contoh konkritnya. Bahkan bapak proklamator Indonesia, Soekarno, menggambarkan besarnya peran pemuda lewat kutipannya, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.
Kondisi Pemuda Saat Ini
Setelah melewati perjuangan yang panjang, bangsa Indonesia akhirnya memperoleh kemerdekaanya pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun selama 69 tahun merdeka, bangsa Indonesia tidaklah sepenuhnya lepas dari bayang-bayang penjajahan. Bukan ancaman fisik dari bangsa lain atau aksi terorisme yang ditakutkan. Lebih dari itu, Indonesia, khususnya para pemudanya sedang mengalami penjajahan moral.
Ya, moral para pemuda saat ini tengah terdegradasi sangat akut. Sering kita lihat di media, betapa banyak pemuda kita terjerumus dalam pengaruh narkoba, miras, pergaulan bebas dan kecintaan berlebih pada budaya bangsa lain sehingga lupa pada budaya sendiri. Bahkan pernah dalam sebuah tayangan televisi swasta, saat beberapa anak muda ditanya tentang tanggal kemerdekaan Indonesia, isi Pancasila, isi sumpah pemuda dan pertanyaan yang berkaitan dengan nasionalisme Indonesia, mereka tidak tahu. Ini seakan menjadi ironi, pemuda yang seharusnya menjadi the next leader justru  lupa dengan identitas bangsa dan terombang-ambing pada dunia hedonis yang melenakan.
Bagi seorang pemuda, pengakuan atas eksistensi dan harga dirinya oleh masyarakat adalah penghargaan yang tak terbatas nilainya. Oleh karena itu, dalam rangka pencarian jati diri, seringkali pemuda tergelincir dalam godaan-godaan yang menjerumuskannya dalam lobang keterpurukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang ingin dicap jagoan dan pemberani rela mempertaruhkan nyawanya demi ikut-ikutan tawuran tanpa tahu maksud dan tujuannya.  Para artis yang ingin tampil percaya diri nekat mengkonsumsi narkoba dan atlet yang ingin menang pada lomba atletik dengan secara mengkonsumsi doping.  
Memang tidak semua pemuda seperti kondisi di atas, masih banyak pula pemuda yang menorehkan prestasi sampai kancah internasional. Dalam kejuaraan olimpiade matematika dan fisika tingkat dunia contohnya, Indonesia selalu menjadi langganan juara.
Pemuda, Mari Bangkit
Eksistensi para tokoh pencetus sumpah pemuda seharusnya menjadi penyemangat pemuda saat ini. Bahwa perjuangan harus dilanjutkan. Momentum sumpah pemuda seharusnya menjadi refleksi kita semua untuk kembali menata tujuan hidup. Bagi para pelajar, selain belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh, mengisi aktivitas sehari-hari dengan kegiatan positis harus terus ditingkatkan. Pun juga dengan para pemuda pada umumnya, kembangkanlah potensi diri masing-masing dengan kreatif dan inovatif. Sehingga kita bisa berkarya dan menorehkan prestasi yang membanggakan. Dengan sendirinya pengakuan dari masyarakat akan mengalir. Bangsa ini akan dipenuhi oleh pemuda-pemuda kreatif. Maka bukanlah tidak mungkin jika 5, 10 atau beberapa tahun lagi Indonesia akan menjadi bangsa yang besar, maju dan mapan. Semoga...


Faishol Amir, S.Si
KSK Suboh BPS Kab.Situbondo.

Rabu, 17 September 2014

Pertanian Yang Tergerus Perkembangan Jaman



Pertanian Yang Tergerus Perkembangan Jaman
Oleh: Faishol Amir, S.Si (KSK Kec.Suboh Kab.Situbondo)
(Pernah diterbitkan di harian Radar Banyuwangi edisi 17 Oktober 2014)
 
Penduduk  Kabupaten Situbondo, Khususnya Kecamatan Suboh cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Kenaikan tersebut akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, pembangunan lahan permukiman, pertokoan, industri dan pusat kegiatan ekonomi lainnya terus meningkat seiring laju pertambahan penduduk. Pembangunan didirikan di atas lahan-lahan baru, baik yang sebelumnya lahan bukan pertanian tidak produktif (lahan kosong) dan lahan pertanian yang masih produktif. Sehingga terjadilah peralihan fungsi lahan yang berakibat menyempitnya lahan pertanian, produksi pertanian menurun serta perubahan mata pencaharian petani ke sektor ekonomi yang lain.
  Peralihan fungsi lahan pertanian menjadi lahan bukan pertanian merupakan persoalan yang tidak bisa dihindari dalam proses pembangunan suatu wilayah. Ada dua faktor utama yang mempunyai andil besar dalam peralihan fungsi lahan. Pertama, faktor pertambahan penduduk, dimana kebutuhan lahan permukiman juga meningkat. Ditambah dalam tradisi lokal masyarakat Situbondo, orang tua  akan membangun rumah yang baru jika anaknya berkeluarga. Tentu hal itu membutuhkan lokasi baru sehingga memicu terjadinya perubahan fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan bukan pertanian. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat di berbagai sektor. Di sektor perdagangan dan industri, banyak pembangunan toko, pusat perdagangan, pabrik, dan kawasan industri baru, utamanya yang berlokasi di pinggir jalan raya.
Terjadi Perubahan Jenis dan Status Mata Pencaharian
Selaras dengan berkurangnya luas lahan pertanian, jumlah rumah tangga yang berusaha di bidang pertanian juga semakin menurun. Berdasarkan data perbandingan hasil Sensus Pertanian tahun 2003 dengan Sensus Pertanian tahun 2013 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) seperti yang ditunjukkan tabel di bawah, terjadi penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kecamatan Suboh sebesar 914 rumah tangga.



Tabel Indikator Perbandingan Hasil ST 2003 dan ST 2013 Kecamatan Suboh
No
Indikator Perbandingan
Tahun
2003
2013
1
Jumlah Rumah Tangga usaha Pertanian (orang)
6.926
6.012
2
Rata-rata Luas Lahan Pertanian yang dikuasai per rumah tangga pertanian (m2)
1.932,01
2.661,85
Di sisi lain, rata-rata luas lahan pertanian yang dikuasai per rumah tangga usaha pertanian tahun 2013 di Kecamatan Suboh justru meningkat 37,78% dibandingkan tahun 2003. Tentu kita berpikir ada peningkatan kesejahteraan kehidupan petani karena luas lahan yang mereka kuasai semakin bertambah. Namun kesimpulan tersebut terlalu dini, karena mungkin saja petani-petani dengan modal besar yang bertambah luas lahan yang dikuasainya. Sedangkan petani gurem (petani yang menguasai lahan pertanian kurang dari 10.000 m2) luas lahan pertaniannya tetap atau bahkan berkurang karena dijual, disewakan atau digadaikan.
Hal itu memunculkan spekulasi terjadinya arus perubahan mata pencaharian penduduk, utamanya pada petani gurem yang semula berusaha di bidang pertanian beralih menjadi pengusaha atau buruh di sektor ekonomi yang lain seperti perdagangan, industri, atau sektor lainnya. Namun bisa pula yang terjadi perubahan status dari seorang pengusaha pertanian menjadi buruh tani/ petani penggarap.
Faktor Pemicu
Ada empat hal utama yang menjadi faktor pemicu perubahan mata pencaharian petani. Pertama, wabah hama yang menggila. Dalam satu dekade ini, hama penyakit yang menyerang tanaman, khususnya padi dan jagung menjadi siklus rutin yang tidak bisa diputus mata rantainya. Mulai hama wereng coklat, tikus, dan ulat pada tanaman serta jenis hama lainnya. Musnahnya predator alami seperti ular, katak, dan keong yang diburu masyarakat untuk dijual, ditengarai menjadi penyebab meledaknya hama tanaman.
Kedua, perubahan iklim yang tak menentu. Seperti hujan turun terlalu sering yang menyebabkan bamjir dan tanaman membusuk atau kemarau berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan. Ketiga, kelangkaan pupuk yang beredar di pasaran menghambat proses pertumbuhan tanaman. Terkadang petani harus menunggu tersedianya pupuk sampai berbulan-bulan walau masa ideal untuk melakukan pemupukan telah lewat.
Keempat, biaya produksi yang mahal seperti harga pupuk, bibit, biaya upah pekerja dan persewaan traktor yang kenaikannya cukup tinggi dan tak terjangkau oleh petani kecil. Dan yang kelima, anjloknya harga hasil panen petani. Sering kita temui, saat panen bagus harga komoditas turun drastis karena stok  yang melimpah dan harga melambung tinggi saat keterbatasan stok hasil panen.
Kelima faktor di atas menyebabkan petani merugi dalam usahanya. Bahkan pernah tercatat di Kecamatan Suboh petani gagal hingga empat kali masa penanaman secara beruntun karena kombinasi faktor-faktor di atas. Sehingga banyak petani yang beranggapan daripada merugi di usaha pertanian, lebih baik beralih usaha ke sektor lain atau menjadi buruh saja. Sedangkan lahan pertaniannya dijual, disewa, atau digadaikan
 Ada hal menarik yang bisa dicermati di Kecamatan Suboh, selain berkurangnya jumlah rumah tangga usaha pertanian. Ternyata banyak pemuda baik lulusan SMA/ Sederajat atau bahkan sarjana yang enggan menjadi petani. Mereka beranggapan bekerja di sektor pertanian kurang beken, prospek kerjanya tidak meyakinkan, tidak populer di mata pemuda saat ini dan alasan-alasan lain yang menguatkan stigma bahwa bertani bukanlah profesi anak muda saat ini.
Tentu ini menjadi polemik yang serius bagi pemerintah Situbondo, siapa nantinya yang akan bekerja sebagai petani jika pemudanya saja enggan untuk bertani?. Jika saat ini Pemerintah Situbondo masih berbangga hati karena merupakan salah satu kabupaten yang surplus beras, apakah hal itu akan terus berlangsung sementara lahan pertanian semakin menyusut dan jumlah petani semakin menurun?
Pemerintah Harus Bekerja Keras
Selama ini, pemerintah melalui dinas pertanian sudah berupaya memajukan pertanian di Kecamatan Suboh dengan  memberikan bantuan sarana-prasarana pertanian kepada kelompok tani, seperti: traktor, Hand Sprayer, pompa air, dan alat pertanian lainnya. Selain itu, bantuan bibit dan pupuk bersubsidi telah digelontorkan untuk menangkal mahalnya biaya pertanian. Ada pula pelatihan dan penyuluhan, baik yang dilakukan mantri tani dan penyuluh pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman petani tentang cara bercocok tanam yang benar.
Namun semua itu seperti tidak memberikan dampak yang signifikan dalam memajukan pertanian di Kecamatan Suboh. Masih banyak ditemui petani mengeluarkan biaya yang mahal untuk sewa traktor, pupuk yang langka di pasaran meskipun mereka punya jatah masing-masing, dan gagalnya panen karena hama yang menyerang meski penyuluhan tentang penangkalan hama terus dilakukan.
Ada indikasi penyalahgunaan bantuan dan tidak maksimalnya roda organisasi kelompok tani menyebabkan masih banyak petani yang tidak bisa menikmati hasil bantuan pemerintah karena hanya dikuasai oleh ketua kelompok tani atau anggota keluarganya saja.
Ada beberapa solusi yang bisa dilakukan pemerintah Situbondo untuk mengatasi berbagai macam permasalahan di atas, yaitu: Pertama, Pemerintah mendorong para peneliti untuk menemukan formula obat anti hama yang murah, tepat guna dan tidak merusak unsur hara tanah. Kebetulan Kabupaten Situbondo memiliki dua universitas yang memiliki jurusan Biologi. Sehingga masalah hama yang menyerang tanaman bisa teratasi. Kedua, memperbaiki sistem irigasi yang ada sehingga bisa mengatasi permasalahan iklim yang melanda petani. Contoh: membuat bendungan untuk menyimpan air, membangun irigasi primer hingga mencakup lahan pertanian yang jauh dari sumber air.
Ketiga, Pemerintah harus bisa menjamin pupuk sampai kepada petani langsung dengan pengawasan penuh pada distribusinya. Keempat, mendorong kelompok tani untuk aktif dan inovatif dalam melakukan komunikasi agar anggota bisa merasakan manfaat adanya kelompok tani. Seperti penyaluran bantuan bibit, alat, dan pupuk yang melalui kelompok tani. Kelima, membangun dan memberdayakan KUD pertanian di setiap desa agar hasil dan harga panen petani terjamin dan stabil (petani bisa langsung menjualnya ke KUD) . Perlu pula diadakan pelatihan pengolahan produk pertanian sehingga bisa bernilai tinggi dan meningkatkan pendapatan petani, khususnya petani gurem. Misalnya pembuatan makanan olahan dari singkong, dll.
Selain itu, edukasi kepada para pemuda tentang pentingnya pertanian dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan terus dilakukan secara konsisten dan kreatif agar menumbuhkan minat para pemuda untuk juga terlibat langsung dalam pertanian. Jika hal-hal diatas betul-betul dilaksanakan, kecenderungan untuk beralihnya mata pencaharian masyarakat dari petani ke sektor lain bisa dikendalikan, target swasembada beras nasional tetap terjaga dan hasil produksi pertanian terus meningkat meskipun tidak dipungkiri luas lahan pertanian menurun. Petani juga akan semakin semangat bertani karena masa depan mereka terjamin.